Di bawah langit Sawahlunto, di mana aroma batu bara pernah menjadi napas kehidupan, berdirilah saksi bisu bernama Tangsi. Dahulu, dinding-dinding ini adalah barak para pejuang dan pekerja yang ditempa dalam kedisiplinan serta ketangguhan kolonial. Kini, sejarah yang menderu itu tidak lagi dibiarkan membatu dalam sunyi.
Batik Tangsi lahir sebagai sebuah persembahan khidmat dari jiwa-jiwa yang sedang menempa harapan baru di balik jeruji. Kami menghidupkan kembali narasi lorong tambang dan kekokohan asrama masa lalu, mengubah setiap jejak luka dan kerinduan menjadi mahakarya yang abadi di atas lembaran kain mori.
Setiap motif bukan sekadar goresan estetika, melainkan simbol pemulihan; di mana tangan-tangan yang mencari jalan pulang, kini dengan bangga melukiskan kebangkitan bagi sejarah Sawahlunto. Inilah Jemari Jeruji—sebuah dialog antara masa lalu yang kokoh dan masa depan yang ditenun dengan kemuliaan.
Penyusunan motif geometri yang terinspirasi dari struktur arsitektur Tangsi.
Goresan manual lilin oleh tangan perajin lokal dengan konsentrasi penuh.
Sentuhan tembaga yang membawa irama presisi pada setiap jengkal kain.
Penggunaan pigmen warna gelap untuk memperkuat karakter "Tangsi".
Kreator dan pelestari warisan budaya Sawahlunto.
Founding Artisan
Master of Natural Dyes
Lead Pattern Designer
Mari menjadi bagian dari gerakan pelestarian warisan UNESCO melalui setiap helai kain Batik Tangsi.
KEMBALI KE BERANDA